Sedih Yang Tak Berujung
Setelah sekian lama tidak pernah menggoreskan cerita, mungkin inilah waktu yang tepat untuk saya angkat bicara..
Saya tidak pernah berfikir untuk jatuh cinta apalagi sampai sedalam ini, apalagi menurut saya, saya jatuh cinta dengan orang yang salah.
Tidak ada yang tahu bagaimana perasaan saya saat ini. Tidak ada yang bisa memahami isi hati saya seutuhnya. Ketika semua sudah terlanjur berjalan pada “rel” nya, saya merasa putus asa.
Seperti kata Armada, “Mau dibawa Kemana”. Karena jujur tidak ada kejelasan untuk ini. Mau berpaling pun sulit rasanya. Hari- hari yang indah pernah dilalui, terasa biasa saja belakangan ini. Terkadang saya suka menyalahkan Insting saya yang terlalu kuat untuk bisa mengetahui dengan tepat, ada apa dibalik semua ini..
Semua teman baik saya sudah angkat tangan, mereka mengganggap bahwa saya sudah “tidak bisa diselamatkan”. Mereka tau apa yang terjadi sebenarnya, sesuai dengan apa yang saya rasakan sekarang. Tapi saya yang tidak bisa meninggalkan begitu saja.
Mereka beranggapan bahwa DIA telah mempermainkan saya, dan saya berani berkata mungkin IYA. Mungkin anda akan berkata sama, Lalu buat apa dipertahankan?
Saya merasa saya memang membutuhkan dia, meskipun pahit dan sakit, saya belum pernah menemukan sosok sepertinya..
Disamping sisi yang cuek dan mood swing-nya, saya tau dia orang yang baik. Saya sudah mencoba mengkoreksi diri, dan menurunkan gengsi saya yang mungkin menjadi hambatan ketika saya berhubungan dengan yang dulu- dulu, tapi ternyata itu tidak cukup. Saya tidak tahu ada apa sebenarnya.
Hanya ada satu nama yang membuat saya sangat cemburu terhadapnya. Siapa? Biarkan saya dan Tuhan.yang tau, tidak perlu gegabah seperti dulu, biarkan waktu yang akan menjawab.
Meskipun pernah terluka dengan perbuatannya, tidak ada alasan untuk tidak memaafkannya, karena saya terlalu sayang dengan dia.
Saya hanya tinggal menunggu waktu, kapan semua ini akan kembali kesedia kala. Merindukan kata- kata “I Love You, I Miss You” ya pernah dia berkata seperti itu tapi tidak sesering dulu. Dan tidak pantas buat saya.menuntut itu.
Biarkan semua berjalan seperti air, tanpa ada yang tau kapan air itu akan berhenti mengalir.
Xoxo, November 13th, 2010
dan sebenarnya saya belom siap jatuh cinta
Officially 47 Days live in Bali
Morning SunShine! Hari terakhir di usia yang lama. Semoga usia baru di depan mata makin memberikan perubahan yang baik dalam segala hal. Tentunya tetap bisa menjadi orang yang Rendah Hati dan Takut Akan Tuhan. Have a great Monday and God Bless You!
Namanya Malayka Keana, dia lahir October 1999.
Saya mengenal sosoknya sejak usianya 2 tahun, awalnya ia sangat pemalu dan takut bertemu dengan orang- orang baru. Setelah beberapa kali bertemu di toko saya, ia pun mulai luluh dan dekat dengan saya. Setiap bertemu ia selalu memanggil saya dengan sebutan : Uncle Titan, dan ia selalu minta saya gendong lalu ia memberikan “kissing” di pipi saya.
Singkat cerita, hubungan saya dan Keana makin dekat, kami pernah menghabiskan waktu di akhir pekan bersama Keana dan ibunya untuk pergi bersama. Entah hanya ke Mall untuk mengantarnya bermain, sampai ke Rumah Sosis, Bandung.
Patut diakui, hubungan saya dan Keana mulai cukup renggang setelah saya jarang mengunjungi daerah Kelapa Gading dan berkutat dengan pekerjaan saya, maklum Keana tinggal di daerah sana, jadi akses paling mudah ya saya harus kesana. Apalagi saat ia berulang tahun ke 4, saya janji mau datang tapi tidak bisa karena saya ada di luar kota. Namun, saya dan Keana tetap berhubungan via telepon.
Yang saya tahu dan saya dengar, Keana selalu mendoakan saya dan keluarga saya sebelum dia beranjak tidur. Di dalam doa anak itu, selalu terselip nama- nama orang yang sangat ia rasakan kasih sayangnya.
(honestly saya tidak kuat menulis cerita ini, ini terlalu membuat saya sedih)
Rabu, 25 November 2009.
Tuhan sayang sama Keana, ia memanggil bocah yang baru genap berusia 4 tahun, October lalu. Penyakit yang dideritanya di bagian perut membuat hidupnya harus berakhir di tahun ini.
Awalnya saya tidak percaya, karena saya menerima Broadcast Msg dr BlackBerry saya, namun setelah saya telepon, ternyata itu benar.
Spontan tubuh saya rasanya mati total, hanya lemas.
Terakhir saya berhubungan Sabtu, 21 November lalu, kita akan berencana untuk ketemu. Namun pertemuan itu bukan di tempat yang saya inginkan.
Saat saya melihat jenazah Keana, saya hanya bisa menangis. Perasaan saya sangat bercampur aduk, mau marah, sedih, semuanya jadi satu.
Sekarang Keana sudah dikebumikan, hanya kenangan berupa foto yang selalu ia berikan gayanya yang sangat menarik.
Ke, Uncle Loves You..


